Placeholder image
Home > Kawasan Ekosistem Esensial, Harapan Terakhir Pelestarian Gajah di Bentang Seblat

Fakta Gajah

Gajah Sumatera (Elephas maximus) saat ini, terutama seluruh gajah Asia dan sub-spesiesnya, termasuk satwa terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah spesies terancam punah yang keluarkan oleh Lembaga Konservasi Dunia –IUCN, termasuk Gajah Sumatera. (Sumber WWF Indonesia)

Kawasan Ekosistem Esensial, Harapan Terakhir Pelestarian Gajah di Bentang Seblat

Agustus 12, 2020 5:22 pm |

Pelestarian gajah melalui program pembangunan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Koridor Gajah sudah dilaksanakan sejak tahun 2018. Kerja kolaboratif ini melibatkan lebih 17 pemangku kepentingan yang berasal dari organisasi masyarakat sipil, dinas atau lembaga pemerintah dan perusahaan serta komunitas yang tinggal di sekitar kawasan. Forum ini memiliki payung kebijakan melalui surat keputusan Gubernur Provinsi Bengkulu. Program KEE Seblat menyasar dua hal penting yaitu, menyelamatkan kawanan gajah tersisa yang jumlahnya tidak lebih dari 50 ekor dan menyelamatkan habitat yang terus menyempit.

Ketua Forum Kolaborasi Pengelolaan KEE Koridor Gajah Sumatera lanskap Seblat Provinsi Bengkulu, Sorjum Ahyan, MT mengatakan pembangunan KEE menjadi harapan terakhir dalam melestarikan gajah di bentang Seblat. Program ini merupakan bagian dari upaya untuk memastikan habitat gajah dapat kembali bersatu dengan adanya integrasi pengelolaan lanskap sebagai satu kesatuan KEE Koridor Gajah Sumatera.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa kegiatan peletakan batu pertama prasasti titik nol Koridor Gajah Sumatera di Taman Wisata Alam (TWA) Seblat, Desa Suka Baru Kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara Provinsi Bengkulu pada hari Rabu, 12 Agustus 2020 sekaligus dilaksanakan dalam rangka memperingati  hari Gajah Sedunia atau “World Elephant Day” 2020.

Kegiatan ini merupakan  wujud dari sinergitas antar pemangku kepentingan dalam pelestarian gajah. Berfungsinya koridor gajah dapat memberikan ruang gerak gajah secara luas dalam melakukan perjalanan dan migrasi, agar tercipta pertukaran genetik antar populasi  serta memberi peluang rekolonisasi habitat yang populasi lokalnya telah punah.

Ir. Donald Hutasoit, M.E. selaku Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu–Lampung yang juga merupakan Wakil Ketua Forum menyatakan “KEE merupakan pilihan terbaik untuk berbagi ruang antara manusia dan gajah yang sama-sama makhluk Tuhan agar berhak untuk hidup bersama. Harmonisasi antara gajah dengan manusia adalah pendekatan yang akan menjadi kunci keberhasilan program ini. Tanpa itu, ke depan kita hanya akan mendengar cerita bahwa gajah pernah ada di bentang Seblat,” katanya.

Ketua Kanopi Hijau Indonesia Ali Akbar yang juga Sekretaris Forum KEE menyatakan bahwa menyelamatkan kawanan Gajah Sumatera berarti juga menyelamatkan fungsi ekologis bentang Seblat. “Perlu diketahui warga yang tinggal di hilir, dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya mengandalkan daya dukung lingkungan dan layanan ekosistem,” kata Ali.  Ditambahkannya, sungai- sungai besar di Bengkulu seperti Sungai Manjunto, Seblat, dan Ketahun semuanya berhulu di bentang Seblat, sebagai sumber air irigasi, pembawa unsur hara dari hulu serta menjadi sumber pendapatan tambahan masyarakat.

“Pemasangan prasasti ini adalah momentum bersama dari para pihak yang benar-benar ingin melestarikan kawanan gajah dan habitatnya, aktualisasi kerja-kerja pembangunan KEE ini juga akan menjadi barometer bagi publik untuk melakukan kontrol terhadap kerja-kerja kolaboratif yang sekarang ini sedang dibangun” katanya.

Pemerintah Provinsi Bengkulu dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menginisiasi KEE koridor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di kawasan bentang alam Seblat yang mencakup wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dan Mukomuko. KEE koridor gajah sumatera di lanskap Seblat Bengkulu ini dibentuk melalui Surat Keputusan Gubernur Bengkulu Nomor 4 Tahun 2017.

Ketua Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Krismanko Padang mengatakan ada tiga penyebab utama kepunahan gajah Sumatera yaitu kehilangan habitat, perburuan untuk mengambil bagian tubuh gajah serta konflik dengan manusia. Karena itu, peringatan Hari Gajah Sedunia 2020 menjadi momentum menguatkan komitmen para pihak melestarikan satwa langka gajah Sumatera. Setelah kegiatan ini forum akan menyusun dan meluncurkan rencana aksi forum KEE untuk tiga tahun ke depan.  Tahun ini dengan dukungan para pihak termasuk Forum Konservasi Gajah Indonesia, pemasangan kalung GPS  dan survei populasi gajah berbasis DNA akan dilakukan untuk mengetahui populasi dan wilayah jelajah gajah liar di bentang alam Seblat” kata Krismanko. Lebih lanjut ia mengatakan KEE berfungsi menyatukan habitat gajah yang selama ini terpisah-pisah dan tidak ada jalur penghubung. Kondisi ini membuat antar kelompok gajah terkotak-kotak yang mengancam populasi dan masa depan gajah.

Mengingat pentingnya koneksi antar kelompok gajah sumatera inilah maka pemerintah bersama pemangku kepentingan mengupayakan pembangunan koridor sehingga kelompok gajah saling terkoneksi. Kawasan yang diusulkan dalam KEE bentang alam Seblat seluas 29 ribu hektare mencakup Hutan Produksi (HP) Air Rami, Hutan Produksi Terbatas (HPT) Lebong Kandis, Taman Wisata Alam (TWA) Seblat, TNKS dan sebagian konsesi IUPHK dan HGU perkebunan kelapa sawit.